Aku mendapatkan surat itu lagi. Ini adalah sudah surat yang ke- 5 di tahun ini. Aneh, dua tahun ini belakangan ini begitu banyak surat yang tersemat di ujung pintu apartement setiap kali hujan turun. Entah siapa yang menulis surat-surat ini, sepertinya aku benar-benar harus mencari tahu.
"Assalamualaykum,.." suara Bona terdengar samar dari luar kamarku,
"Wa'alaykumussalam, masuk aja Bon.. " jawabku segera,
"Ada apa , Bon? kamu mimpi buruk lagi?" tanyaku. Bona yang terlihat setengah mengantuk itu berjalan lesu dan membaringkan tubuhnya dikasurku. Jilbabnya yang acak-acakan tak lagi ia hiraukan. Ia menarik selimutku dan kemudian melanjutkan tidurnya tanpa menjawab pertanyaanku. Aku menatapnya heran. Bona gadis pemalu, manis, dan bertubuh tinggi itu adalah adik perempuanku. Kami hanya selisih 1 tahun, meski kami bukan saudara kandung, kami selalu saling menjaga.
Bona semakin terlelap sedang aku masih terjaga. Sesekali aku menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Hujan diluar semakin deras, pekat malam tak juga dapat membuatku terlelap.
Aku beranjak dari pembaringan dan mulai memutar playlist instrumental dari Richard Clayderman; menjadi pengantar surat ke-5 ini untuk ku baca. Aku mulai membukanya dengan hati-hati. Satu demi satu kalimat itu menghiasi mataku.

" Dear, Zea...
Aku baru menyadari bahwa Mawar merah yang ku tanam tak semua berujung mekar. Ada yang layu karena tak mampu menyaingi rona merah sekitarnya. 
Ia tak percaya diri untuk tumbuh meski dari bibit yang sama. 
Dan kini aku mengerti, mengapa aku lebih menyukai Azalea.
Aku sedang mendengarkan dentingan piano Kiss The Rain milik Yurima sembari memandangmu dari sudut jalan,
Aku selalu tersenyum melihatmu dengan jilbab ungu muda yang sering kau pakai.."

Sepotong surat ini telah sampai dan membawaku hanyut pada alunan instrumental Canon in D milik Pachelbel. Awalnya aku merasa membaca puisi-puisi dari penulis surat ini adalah hal yang menyebalkan, namun anehnya kini menjadi hal yang ku nikmati. Setiap kalimat yang ia tulis untukku berhasil membuat pikiranku masuk ke dalam dunia yang ia ceritakan. 
Terlebih sepertinya kami memiliki satu kesamaan; penikmat musik instrumental. Entah, siapakah dia. Aku masih terus menerka, berharap bisa menemukannya suatu saat nanti.
Gemercik hujan mulai perlahan terdengar pertanda ia akan segera berlalu. Ku simpan rapat-rapat surat itu ditempat yang paling aman.

***
"Aku terlambat, anak-anak  sudah menungguku, Astaghfirullah.. lagi-lagi aku  kesiangan!"
ucapku pada Bona yang bergegas mengisi bekal kotak makan siangku untuk ku bawa ke taman bermain tempat aku mengajar anak-anak tunawisma. Setiap akhir pekan aku berjanji akan mengajari mereka baca tulis. 
"Kak, Zea sih.. Begadang kan tadi malam?" balasnya sembari menghitung bungkusan nasi yang juga akan ku bawa dan ku bagikan ke anak-anak. Aku bergegas, syukur ada Bona yang membantuku pagi ini. 
Aku berlari kecil menuju sekumpulan anak-anak yang telah terlihat tak jauh dari mataku dengan tangan yang penuh dengan bekal,
"Ya Allah handphone aku ketinggalan," aku bergumam pada diri sendiri

"Zea, tumben telat?" Seseorang memanggilku sembari berlari kecil menghampiriku. Baju kemko yang terlihat rapi, jam tangan sport berwarna merah hitam menghiasi pergelangan tangannya. Wangi tubuhnya tercium dari kejauhan. Pria berkulit sawo matang dan memiliki tubuh dengan tinggi kira-kira 168 centi meter,dengan bola mata hitam yang pekat. Ia adalah salah satu favorit anak-anak disini. Ia adalah, Windu. Mas Windu.


"Daripada nanya mending bantu angkat ini dong Mas.." ujarku dengan nada sedikit kesal
"Ini juga mau dibantu, " Mas Windu dengan segera mengambil dua buah kantong plastik besar dalam genggamanku,
"Anak-anak sudah menunggumu daritadi, payah ih baru saja kemarin kamu ngajarin mereka untuk menghargai waktu, eh ini malah..." belum sempat Mas Windu melanjutkan ocehannya , aku memotongnya
"Mas,hari ini please yah jangan ajak aku berdebat, "jawabku sambil bergegas meninggalkannya dan menuju anak-anak.
Mas Windu hanya menggelengkan kepala dan mengejar langkahku.
"Kak Zea, bawa makanan apa hari ini?" Ucap Rere salah satu anak tunawisma yang selalu semangat jika melihat nasi kotak.
Aku tersenyum. "Nasi padang, semua suka kan ?"
Sepuluh anak-anak itu lalu berteriak kegirangan. Aktivitas baca tulis hari ini berjalan lancar. Namun sepertinya aku tak melihat sahabatku Nuri hari ini.
" Mas, Nuri kok gak datang yah? Males banget kita berdua aja disini"
Tanyaku sembari menyeruput segelas air minum kemasan,
" Lebih-lebih aku. Mood swing bangetlah tiap ketemu kamu," balas Mas Windu dengan nada sinis
"Memang ya, dari dulu kita tu gak pernah bisa jadi teman akrab,gimanapun caranya, dan apapun kondisinya."jawabku ketus ,
"Haha, lah emang! Salah siapa? Kamu kan, ga pernah bisa lemah lembut gitu kek tiap kali ngomong sama aku, aneh banget,"
"Ih Mas ga nyambung deh," aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Nuri kemana sih..? Ada kabar ga tadi?"sambungku
"Nuri sibuk ngurusin nikahannya, emang kamu jomblo mulu, "
Mataku melotot pada mas Windu,rasa kesal, sebal semua campur aduk. Darahku serasa mendidih mendengar kalimatnya itu. Tunggulah pembalasanku.
"Marah?" mas Windu menggodaku,
"Enggak, "jawabku singkat
"Nihhh.. minum," mas Windu menyodorkan yogurth kesukaanku yang sudah ia beri sedotan tepat didepan wajahku. Aku menggertakkan bibirku padanya, setiap tak ada Nuri ia selalu membuatku kesal!
                                   
Tepat pukul 6 sore, Mas Windu mengantarku pulang.Cuaca mulai mendung, sepertinya akan turun hujan lagi malam ini.
"Makasih ya Mas," ucapku lesu sambil mengembalikan helm.
"Iya. Sama-sama. Oh iya Nuri tadi titip pesan , kalo besok malam kita mesti hadir di acara pengajiannya." Ujar mas Windu sembari memutar motornya
"Kok dia ga bilang langsung ke aku?" Aku mengerutkan kening menatapnya curiga,
"Yah mana ku tahu, Zea. Udah ya, aku pamit. Salam buat Bona. Assalamualaykum.."
"Waalaykumussalam," jawabku sembari menatapnya berlalu.

                                  ****
"Nuri kok tumben ya ga cerita apa-apa sama aku,padahal terakhir itu dia bilang gak mau nikah loh sama Jio,"
sepertinya ada yang janggal deh Bon," sambungku
" Manusia kan bisa aja berubah pikiran kak, " jawab Bona santai sembari sibuk mengganti channel tv dihadapannya,
Aku hanya menghela nafas, masih belum percaya atas keputusan Nuri.Apa Nuri bisa mempercayai lagi pria yang sudah ketahuan selingkuh? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Malam semakin larut, hujan enggan turun meski petir dan kilat berlomba memecahkan heningnya malam ini. Aku akan bersiap-siap besok menghadiri acara Nuri.Alunan instrumental Yiruma menemaniku hingga terlelap.
Ah.. sungguh menenangkan pikiranku.

Bersambung..

0 Komentar