Sabtu, 11 Mei 2019

Budaya Larangan Piring Bersih


Okay, sejenak mungkin ada yang bertanya tentang apa makna dari judul postingan aku kali ini. Iya gak sih? Iya deeh heheheu. Tema 1m1c kali ini tentang budaya. Budaya? Sedari siang tadi aku mikir tuh, budaya apa ya yang bakal aku tulis. Dari yang mikirnya berat-berat sampai yang ngaco. But, pas buka puasa tadi tiba-tiba dapet pangist gitu. Eh.. sorry -sorry wangsit maksudnya heheu. Mudah-mudahan ini masuk ya dalam kategori salah satu budaya masyarakat Indonesia yang ternyata aku pun baru tahu.
Langsung aja , ini dimulai dari pertama kali aku menginjakkan kaki dirumah mertuaku. Seminggu setelah akad nikah dikotaku, kami memutuskan untuk kembali menggelar resepsi pernikahan di kota kelahiran suami, di Keera kabupaten Wajo. Pengalaman pertama kesana, dengan jarak tempuh kurang lebih 6 jam dengan mobil. Sepanjang perjalanan disuguhi dengan hijaunya sawah yang meneduhkan. Walaupun rasanya mual-mual dan pusing karena mabok perjalanan, tapi masih bisa ngintip-ngintip dikit lah dari jendela mobil. Oke, lanjut. Hari-hari dikampung suami sangatlah berbeda dari suasana dikeluargaku.

Karena beliau keluarga yang cukup besar dan aku dari keluarga yang kecil perbedaan itu tampak signifikan ketika tiba waktunya makan. Dirumah aku, kalau mau makan cenderung mandiri, yahh makanan sudah disajikan dan kalau mau makan ya ambil aja sendiri-sendiri, makanpun sendiri-sendiri gak jadi masalah. Tapi kalau dikeluarga suami, beda. Kita harus kumpul dan duduk makan bersama-sama. Dan ada jam-jamnya juga, misalnya makan pagi jam 9, makan siang jam 1 dan makan malam jam 8 ba'da isya. Jadi kebayang kan betapa kadang udah laper bangeeeet, tapi jam makan belum nyampe, gak enak hati kan kalo makan duluan. Atau mungkin masih kenyang bangeet..,habis ngemil gorengan, eetapiii udah dipanggil ngumpul aja buat makan (lagi) hahhaah.

Oke cukup basa-basinya wkwk. Budaya yang akan aku ceritain ini sebenarnya bermula dari aku, suami dan keluarga besarnya yang kira-kira sekitar delapan orang duduk makan siang bersama. Gak ada yang aneh selama proses makan-memakan kami *eh. Namun ketika suami yang tengah lahapnya menghabiskan makanan dipiringnya dengan sangat bersihnya mengundang perhatian anggota keluarga, kecuali aku. Karena memang dasarnya yang aku tau suami orangnya gak suka dengan hal-hal yang berbau mubazir (boros)- Ia selalu menghabiskan makanannya tanpa tersisa satupun biji nasi dipiringnya.Kecuali tulang ikan tu piring bersih meski dengan kuah-kuahnya sekalipun. Kata suami "kita tidak tau dimana letaknya keberkahan pada makanan ini , barangkali ada disuapan terakhir, makanya jangan buang atau nyisa-nyisain makanan, gak baik. Diluar sana banyak yang mau makan gak ada makanan". Oke setuju. Suami benar. Agamaku islam mengajarkan itu. Dilarang membuang-buang makanan. Tapi ternyata ada anggota keluarga yang tidak setuju dengan suami tercintaku ini, yaitu Nenek beliau. Kata nenek beliau justru kebalikannya "budaya kita itu tidak boleh makan terlalu bersih, sisakan sedikit makanan dipiring untuk menolak bala". 

Kok kebalikan gitu?

Sempat ada perdebatan ringan-ringan tegang tuhh antara suami dan nenek beliau, tapi aku terus mikir maksud dari tolak bala tersebut. Dan pas udah 3 tahun ini baru aku nemu jawabannya.. eaaaak.. kelamaan *Hahaha.. 
Jika dipikir-pikir dulu nenek beliau sempat bilang : hewan-hewan itu dapet makanan karena makanan yang kita gak habiskan atau kita buang. Nah.. kalo kita habisin makannya mereka kesusahan dong nyari makannya. Jadi intinya nenek beliau ngajarin kita berbagi makanan kepada makhluk hidup ciptaan Allah yang lain. Berbagi kan identik dengan sedekah , sedekah dalam islam kan salah satu manfaatnya adalah tolak bala dan musibah. Kurang lebih gitu kali ya jika kita melihat dari sisi baiknya omongan si Nenek. 

Yah walaupun budaya itu agak kurang srek dihati alias berbenturan dengan ajaran agama islam, kita tetap harus menghargai budaya yang dijunjung tinggi orangtua kita jaman dulu sekaligus mengingatkan dengan cara yang baik bahwa yang terpenting adalah: tetaplah ajaran agama kita-lah yang utama di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan gak bisa ditolerir dengan budaya/adat istiadat yang dibuat oleh manusia. Meski ajaran-ajaran nenek moyang dahulu sebenarnya "sebagian kecil" ada yang mengandung unsur "hikmah" yang hampir sama dengan ajaran agama kita. Meski dalam bentuk teori dan prakteknya cenderung keliru dan bahkan menyesatkan. Anyway, budaya makan harus disisakan dikit ini mungkin diantara kalian pernah dengar juga dikampung kalian? Share dikolom komentar yaaah! :)

sincerely,
@callme_dii



3 komentar:

  1. tambahan ilmu baru nih hehe. aku kira cuma di beberapa negara di luar aja yang punya budaya untuk gak menghabiskan makanan, ternyata di indo jg ada yaaa

    BalasHapus
  2. iya mbak aku pun baru tau :D

    BalasHapus
  3. Baruu tau jugaa aku mbaak :" tp ada benernya juga sih, walaupun dalam hati kecil sayang kalau makanannya ndak dihabiskan. Food waste juga susah diolahnya. Makasih sharing ceritanyaa mbak 😁

    BalasHapus

please post your comment before left :)

Every Single Day, I Love You..

Diluar hujan turun begitu derasnya, sesekali petir mengaung menambah cemas dihatiku. Pukul sebelas malam kurang dua menit, aku belum tertid...